Searching...
Select a Page
Thursday

2917562366_9f2722e9ed_o

 

                                         Okezone.com
 

USIA remaja merupakan masa rentan yang memerlukan banyak arahan dari orangtua. Jika tidak, keingintahuan mereka yang membuncah dan tak dibarengi dengan pengetahuan tepat membuat mereka melangkah ke jalan yang salah.

Hal ini pun diperparah dengan keberadaan teknologi yang semakin canggih, sehingga memudahkan akses remaja untuk mengetahui beragam hal, termasuk mengakses pornografi dan sebagainya.
Ketika informasi tersebut diserap dengan cerdas, tentu tak akan berdampak negatif bagi perilakunya. Sayangnya, tak sedikit yang menyerap mentah-mentah apa yang mereka lihat di sekelilingnya atau melalui dunia maya. Alhasil, perilaku negatif pun menjadi buah dari pengaruh lingkungan buruk tersebut. Soal pacaran misalnya, b

anyak remaja saat ini yang cenderung lebih vulgar ketimbang remaja-remaja terdahulu.
Menanggapi hal tersebut, DR Sudibyo Alimoeso, MA selaku Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN usai acara seminar hasil “Survei Kesehatan Reproduksi Remaja” (SKRRI) 2012 di Hotel Bidakara, Jakarta, menuturkan bahwa kondisi remaja saat ini memang dalam taraf mengkhawatirkan.

"Ini kan situasinya semakin mengkhawatirkan karena ternyata banyak remaja-remaja yang tak mengetahui situasi masalah kesuburan dan sebagainya. Mereka tak mengetahui tetapi mempunyai keinginan untuk mencoba-coba,"tuturnya di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 7 November 2013.

Dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja ditemukan bahwa 30 persen remaja sudah sampai taraf meraba-raba ketika pacaran. Kesibukannya mulai meningkat saat berpacaran, di mana tak hanya berpegangan tangan dan ciuman.
Selain itu, survei juga menemukan bahwa hanya 15 persen menyatakan belum pacaran dan sisanya sudah pacaran. Tentu ini merupakan kondisi yang mengkhawatirkan sekaligus memprihatinkan.

"Dari survei tadi, jelas terlihat 30 persen remaja sudah meraba-raba. Itu pasti akan berlanjut lebih jauh dari itu. Apalagi yang menyatakan belum pernah merasa pacaran hanya 15 persen. Berarti 85 persen kan sudah berpacaran. Nah, kualitas berpacaran remaja saat ini mengkhawatirkan, seperti yang kita lihat di media. Seperti kasus remaja SMPN 4 itu kan artinya batas ketabuan remaja itu terhadap kesehatan reproduksi hilang. Bahwa dia mempertunjukkan perbuatan seksualitas kalau dia senang. Itu bagi dia dan itu ternyata jadi kebanggaan remaja. Aktualitas dirinya itu. Remaja ingin melakukan aktualitas diri, ingin punya jati diri. Itu dia tadi, jangan-jangan melakukan seksualitas itu dianggap aktualitas diri. Ini jadi persoalan bahwa mengaktualisasi diri itu salah dilakukan oleh remaja. Inilah tugas orangtua untuk memberitahu bahwa mengaktualisasikan diri tak perlu melalui penonjolan seksualitas," tutupnya. (ind)

0 komentar:

Post a Comment

« »
Get widget