Satu-satunya pemimpin di dunia Islam yang berada di barisan paling depan membela kepentingan Muslimin adalah Erdogan. Tidak ada yang lain.
Ketika
semua pemimpin dunia Islam hanya bisa menjadi "pecundang" dan
"begundal" Amerika Serikat dan Israel, maka Erdogan berdiri dengan
tegak, tanpa rasa rendah diri, berhadapan dengan Amerika Serikat dan
Israel. Itu sangat "clear" jelas. Bukan lagi isapan jempol.
Erdogan
bukan jenis pemimpin yang hanya bisa mengolah kata-kata, dan hanya
sekadar mencari simpati, tetapi dia jenis pemimpin yang sangat berani
mempertaruhkan segala yang dimilikinya untuk membela kaum Muslimin.
Mungkin ini terlalu berlebihan.
Tapi,
sekadar catatan, guna menyegarkan ingatan, dan sebagai gambaran posisi
dan sikap Erdogan terhadap kaum Muslimin, seperti ditunjukkan dengan
langkah kebijakan yang sangat jelas.
Diantaranya,
ketika Presiden Amerika George W.Bush akan melakukan invasi militer ke
Irak, di tahun 2003, dan pasukan Amerika Serikat dan Nato, yang ingin
menggunakan wilayah dan pangkalan udara Turki, maka Erdogan sebagai
Ketua Partai AKP, menggelar pertemuan dengan parlemen, mensikapi langkah
invasi militer Amerika Serikat dan Nato ke Irak. Parlemen Turki yang
didominasi Partai AKP, mayoritas menolak pengunaan wilayah dan pangkalan
udara Turki untuk menyerang Irak.
Erdogan
dengan sangat tegas menolak permintaan Presiden George Bush yang ingin
melakukan invasi militer ke Irak secara unilateral (sepihak). Karena
tindakan Presiden Bush dinilai akan membahayakan keamanan dunia. Invasi
milter Amerika Serikat dan Nato terhadap Irak membawa konsekwensi
ketidakstabilan kawasan, yang mempunyai dampak sangat luas, khususnya
negara-negara di kawasan Teluk. Sampai sekarang.
Turki
mengutuk keras langkah agresi militer Israel ke Gaza, yang sangat
menghancurkan, Desember, 2008. Sekalipun Turki merupakan sekuktu
Israel. Ketika, Perdana Menteri Turki Erdogan menghadiri Forum Ekonomi
Dunia di Davos, Swiss, dan bertemu dengan Presiden Israel, Shimon Peres
dalam satu forum, tidak canggung, dan dengan nada yang tinggi
mengkritik pemimpin Israel itu, sebagai pelaku kejahatan, dan tidak
pernah mau mendengarkan. Sesudah itu Erdogan kembali ke negaranya, tanpa
melanjutkan pertemuan itu.
Erdogan
melalui lembaga NGO seperti IHH, membolisasi bantuan kemanusiaan kepada
rakyat Palestina di Gaza, usai agresi militer Israel. Melakukan
rekonstruksi kembali Gaza yang hancur dan porak-poranda.Kebijakan Turki
membantu bidang ekonomi, sosial, dan kesehatan. Turki membangun rumah
sakit di Gaza. Turki membantu finansiil bagi pemerintahan Hamas yang
diboikot oleh Israel, dan nyaris ambruk.
Tetapi,
yang sangat esensial bagi rakyat Palestina, terutama bagi mereka yang
ada di Gaza, Erdogan mempunyai komitmen yang kuat, membebaskan rakyat
Palestina dari blokade Israel. Membebaskan belenggu Israel. Karena
blokade dan belenggu itu, tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan dan
melanggar hak-hak dasar manusia.
Erdogan
berbicara dengan Presiden Barack Obama, agar bertindak adil, dan ikut
menghentikan blokade Israel terhadap Gaza, ketika Obama melakukan
kunjungan ke Istambul, di awal masa kepresidenannya. Erdogan meminta
kepada Obama mengakui hak-hak berdaulat rakyat Palestina.
Ketika,
Israel menyerang kapal Mavi Marmara, di perairan bebas, dan menyebabkan
8 orang warga negara Turki tewas, pemerintah Turki mengutuk tindakan
Israel. Ujungnya hubungan bilateral antara Turki-Israel menjadi putus.
Hubungan antara Turki-Israel, sekarang ini sudah mencapai "zero" di
semua tingkatan.
Begitu
lembaga multilateral (PBB) mengumumkan hasil penyelidikan terhadap
insiden kapal Mavi Marmara,yang terjadi Mei 2010, kemudian nampak PBB
memihak Israel, maka langkah Perdana Menteri Turki Erdogan, mengusir
Duta Besar Israel dari Ankara, dan memulangkan duta besar Turki dari Tel
Aviv. Bahkan Turki menurunkan tingkat hubungan diplomatiknya, yang
hanya setingkat sekretaris dua, dan yang mewakili kepentingan pemerintah
Israel di Turki.
Turki
memutuskan segala bentuk hubungan kerjasama bilateral dengan Israel. Di
bidang finansiil, ekonomi dan perdagangan, kebudayaan, dan pertahanan.
Turki mengakhiri kerjasama dibidang industri pertahanan dengan Israel.
Turki menolak latihan militer bersama dengan Nato, karena keikut sertaan
Israel dalam latihan itu.
Sekarang
Erdogan berada di Cairo, Mesir, di elu-elukan sebagai pahlwan dunia
Arab. Tetapi, sejatinya Erdogan bukan hanya pahlawan dunia Arab, tetapi
Erdogan sebagai pembela kaum Muslimin di dunia Islam.
Erdogan
yang sekarang berada di Cairo, dan saat berada di markas Liga Arab, di
Cairo, menegaskan dukungan terhadap berdirinya negara Palestina. "Sudah
saatnya saudara-saudaraku bangsa Palestina memproklamirkan negara
Palestina", ujarnya di depan sidang para Menlu Liga Arab.
"Sekarang
sudah saatnya mengibarkan bendera Palestina di Gaza, dan bendera
Palestina akan berkibar di PBB", tambah Erdogan, yang mendapat tepukan
tangan panjang dari para Menlu Liga Arab. "Mari kita kibarkan bendera
Palestina di udara bebas, sebagai bentuk simbol keadilan dan perdamaian
di Timur Tengah", tandasnya.
Dengan
pernyataan yang penuh emosional itu, akhirnya mengakhiri Turki dari
isolasi dunia Arab. Selama berbicara di depan para Menlu Liga Arab,
Erdogan selalu menggunakan kata yang sangat penuh familiar "brothers".
Inilah sebuah era baru, hubungan Turki dengan dunia Arab.
Dibagian
lain, Turki yang berbatasan dengan Syria, langsung menampung puluhan
ribu pengungsi, yang menjadi korban kekejaman rezim Bashar al-Assad.
Perdana Menteri Turki, Erdogan juga mengirimkan Menteri Luar Negeri,
Ahmed Davotuglu ke Damaskus, dan meminta rezim Assad mengakhiri
kekerasan, dan segera membentuk pemerintahan transisi. Turki mengancam
Bashar Al-Assad, jika tidak menghentikan kekejamannya, maka ia akan
bernasib seperti Gaddafi.
Saat
situasi masih penuh dengan ketidak pastian di Libya, Erdogan mempunyai
sikap yang jelas, yaitu mendukung kekuatan oposisi, dan membuka dialog
langsung dengan Ketua Dewan Transisi Nasional (TNC), Mustafa Jalil, dan
mengakui sebagai wakil yang sah pemerintah Libya yang baru.
Tentu,
yang tidak kalah penting, sikap dan pandangan Erdogan yang penuh dengan
perhatian terhadap kaum Muslimin, yaitu ketika terjadi krisis
kemanusiaan di Somalia. Erdogan bersama dengan keluarganya (isteri dan
anaknya) dengan sejumlah menteri dan para pemimpin Partai AKP, terbang
ke Somalia, dan mengunjungi kamp pengungsi yang sedang menghadapi
sekarat.
Turki
membuka kembali kedutaannya di ibukota Somalia, Mogadishu, membangun
rumah sakit, dan membolisir para pengusaha dan orang kaya Turki membantu
Somalia, dan terkumpul dana $ 500 juta dollar. Ini adalah wujud
keseriusan Turki dan Erdogan dalam urusan kaum Muslimin.
Turki
sebagai anggota Nato ikut menyelamatkan Bosnia dan Kosovo, yang diamuk
oleh Serbia, yang penuh dengan kekejaman. Sekarang kawasan Balkan
relatif stabil dan kaum Muslimin di kawasan Balkan itu, bisa memulai
hidup baru, dan mengembangkan kehidupan mereka.
Dengan
jumlah penduduknya yang mencapai hampir 80 juta, yang mayoritas Muslim
Sunni, Turki yang dipimpin oleh Erdogan, mempunyai posisi yang sangat
strategis di masa depan bagi dunia Islam, dan terus memberikan akan
insparasi. Saat di mana-mana kaum Muslimin menghadapi hegemoni Amerika
Serikat dan Israel, yang menjadi ancaman nyata bagi masa depan mereka,
Turki membuat kaum Muslimin mempunyai hargai diri.
Sekarang
Erdogan sedang melakukan 'tour revolusi" ke seluruh dunia Arab, dan
ingin membangun poros baru, yang lebih bermakna bagi perubahan, yang
tidak lagi menjadi bergantung kepada para penjajah Barat dan Israel.
Erdogan layak menjadi pemimpin dunia Islam dan menyatukannya.
Wallahu'alam.
eramuslim.com

0 komentar:
Post a Comment